"kenangan itu cuma hantu di sudut pikir.
selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap menjadi hantu,
nggak akan pernah jadi kenyataan."

(kata Luhde pada Keenan, dalam "Perahu Kertas" karya Dee, hlm. 221)

---
Dalam tiga hari ini, novel setebal 442 halaman besutan Dee (Dewi Lestari) yang dilaunching 29 Agustus 2009  lalu (kebetulan, tepat di Harlahku), selalu menemani waktu luangku. Kubaca di 3C, kelasku mengajar, membacanya saat istirahat didepan murid-muridku. Juga saat menunggu anak-anak 4C selesai hafalan untuk kemudian belajar English bersamaku. Bahkan, disaat debat pada rapat rutin guru, aku menyempatkan untuk membacanya, lumayanlah dapat dua-tiga bab. Dan aku kemudian menamatkannya sambil mendampingi murid les privatku di suatu malam. Ya, mau gimana lagi, sekarang ini, waktu khusus dan sepi untuk membaca buku tebal sudah tak ada lagi. Mencuri-curi waktu dan kesempatan adalah satu-satunya cara agar bisa mendaras buku.

Jujur, aku menyesal sekali baru membaca buku yang diterbitkan Bentang dan Truedee itu sekarang. Meski telah mendengar bahkan sempat pula menimang-nimang bukunya sejak lama, aku tidak juga membacanya. Barulah ketika kulihat buku ini dimeja Bu Tatik jelang mengajar Ekskul Menulis di Spalza pekan lalu, aku menggamitnya lagi. Seolah ada tangan yang menuntunku untuk membawanya. Bu Tatik malah menyertakan satu novel tebal lagi, berjudul "Centhini". Yang terakhir ini, (insyallah) akan kutulis dalam postingan yang berbeda.

Baru membaca beberapa halaman, khususnya halaman perkenalan tokoh utama, Keenan dan Kugy, aku langsung mengerti, bahwa buku ini adalah buku yang harus kubaca hingga usai. Alam semesta dengan caranya telah menggiringku untuk menyelami novel ini, kata demi kata, jiwa demi jiwa. Dan pada malam ketiga, usai menamatkannya adalah malam yang terasa panjang bagiku. Ada sejumput keletihan bercampur dengan rindu, mungkin juga kekosongan atau lebih tepatnya kegersangan, 'arsip-arsip' yang telah kurapikan seolah terbongkar kembali... berantakan, dan meluluhlantakan. Dalam dingin malam perjalanan pulang ke rumah, mataku terasa panas dan leherku tercekat. Aku sampai harus berhenti di sebuah toko swalayan untuk sekedar mencari air untuk membasahi kerongkonganku. Meski aku tahu baru saja tadi aku disuguhi teh hangat oleh murid lesku.

***

Ya, Dee telah berhasil memantik kecemburuanku pada sosok Keenan. Meski ini dunia fiksi-imajinasi, tapi sosok Keenan yang diciptakan Dee, sesungguhnya adalah sebuah pengharapan bagaimana mestinya menjadi laki-laki. Punya tujuan hidup, meski sempat hilang arah dan mengorbankan hal yang begitu berharga dalam hidup. Dalam konteks Keenan, ketulusan cinta lingkungan terdekatnyalah yang kemudian perlahan membuatnya bangkit kembali hingga ia berhasil memungkasinya dengan sempurna. Cinta yang murni atau kemurnian mencintai. Entahlah, ... mana yang hendak lebih utama dikatakan Dee. Tapi aku setuju dengan 'ending' yang dibuat Dee.

Bahwasannya, kesatuan dan kedekatan hati adalah sesuatu yang tak selalu bisa terkatakan. Dalam bahasaku, berdialog tanpa kata. Buatku, Keenan dan Kugy adalah pasangan ketiga setelah Ali & Fatimah ra. dan Ainun & Habibie yang merepresentasikan kekuatan cinta dalam dialog tanpa kata. Ya, esensinya sama, meski dalam novel ini, Dee menggunakan istilah yang berbeda : Radar Neptunus. Karena itu, Keenan dan Kugy berhak mendapatkan kebahagiaannya, dalam bahasa Dee : 'another little Kay dalam perut Kugy' sebagai manifestasi cinta tiada berujung Keenan dan Kugy (K&K).

Tinggallah, aku disini termanggut-manggut dalam kesunyian. Dalam beberapa 'scene', aku seolah-olah menjadi sosok Keenan. dan di 'scene' lain aku merasa menjadi Luhde dan Kugy. Campur aduk rasanya. Namun yang pasti, aku tahu satu hal, bahwa alam semesta sedang ingin menyampaikan pesannya padaku bahwa aku tak cukup menjadi pemberani dalam mengambil keputusan. Seakan ia hendak berkata, lihatlah Keenan... lihatlah Kugy... Belajarlah dari mereka!

Lalu, tiba-tiba aku merasa berada di dua dunia. Jiwaku terbelah dua... dan hasilnya adalah sebuah kelelahan. Rasanya lelah sekali... Sampai-sampai, sebuah pertanyaan diucapkan untukku,"Ayah, kok kelihatannya sedih banget...?". Pertanyaan yang justru semakin membuatku terpejam...

Terpejam, mencoba menghadirkan setetes embun pagi, yang buatku pribadi... telah lama sirna atau tepatnya kusirnakan. Ahhh, "dimanakah embun pagi itu kini berada?". Sama seperti gumam Keenan pada suatu waktu, "Kecil,... kenapa engkau terasa jauh sekali?". Sama seperti Kugy yang membutuhkan perahu kertas dan aliran air setiap kali ia dilanda 'emptyness', embun pagi buatku adalah sarana berkomunikasi dengannya. Ya, -nya dalam wujud seabsurd-absurdnya. Aku dan Kugy adalah jenis manusia yang tidak pernah bisa membagi utuh dalamnya zat bernama hati. Dalam sudut pandang ini, ruang sunyi Kugy pun menjadi serupa denganku.

***

Kehadiran "Perahu Kertas" dalam ruang rinduku, menyadarkanku hal penting lain, bahwa tidaklah Allah menganugerahkan hati (cinta) kepada manusia selain sebagai sumber energi untuk kehidupan. Mereka yang tak tertanam cinta didalam dadanya adalah manusia malang yang sebatas hidup jasadnya namun mati ruhnya. Representasi cinta kepada Allah adalah meletakkan cinta itu sebagai bahan bakar untuk berbuat kebaikan, berkarya sebaik-baiknya, dan tulus berkorban. Cintalah yang mampu menggerakkan kuas Keenan ke atas kanvas setelah lama kaku. Cinta jugalah yang menggerakan Kugy meneruskan cerita Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Dan buatku, cukuplah anak-anak muda di Solo dan Purwokerto, yang pernah mengundangku ke hadapan mereka 2-3 tahun lalu. Mereka adalah saksi hidup betapa cinta mampu menyulap seorang mantan demonstran menjadi pembicara yang aneh karena mendadak puitis. Bilamana itu diulang lagi dilain tempat dan dilain waktu, kujamin, aku belum tentu bisa lagi melakukannya...

Kalau saja, Kugy ada dihadapanku sekarang, mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti Remi, yaitu minta tolong Kugy menghanyutkan perahu kertasku agar dibaca Neptunus.  Bila Kugy mau ia juga boleh membacanya. Dan jika ia melakukannya, maka ia akan membaca kalimat berikut,
:"Neptunus, terima kasih telah mengirim agen Kugy ke hadapanku. Darinya aku tahu, bahwa aku seharusnya bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menikmati betapa indahnya ketulusan cinta setetes embun pagi, meski untuk waktu yang tidak lama. Doakan ya, semoga sisa-sisa percikannya tetap menjadi energi buatku membahagiakan orang-orang terdekatku... Untuk saat ini, cuma doa itu yang bisa kupanjatkan. Sampaikan juga pada Luhde, suatu saat aku akan bisa mengubah kenangan itu tidak lagi menjadi hantu di sudut pikir... hari pembuktian itu akan segera tiba!"

Semarang, 29 Juli 2011. 00:01

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Friday, July 29, 2011 4 komentar

MENYONTEK massal dalam ujian nasional (UN) di Sekolah Dasar Negeri 2 Gadel Surabaya adalah fakta empirik bahwa bangsa ini sedang sakit. Sakit, karena Ny Siami, whistle blower kasus mencontek yang dikoordinasi pihak sekolah itu harus terusir oleh warga kampungnya, Tandes, yang tak lain sesama wali murid dan tetangganya. Wanita itu, beserta Widodo, suami, dan anggota keluarga lainnya, mengungsi ke rumah neneknya di Gresik, Jatim. Wanita itu awalnya mengungkapkan ke publik bahwa anaknya,AlifahAhmad Maulana (Aam) diminta oleh pihak sekolah “membantu“ teman sekelasnya mengerjakan soal. Anak yang selama ini dikenal cerdas itu kemudian “memandu“ teman-temannya menggarap soal ujian dan hasilnya baik.

Tapi warga menganggap Siami mencemarkan nama baik desa dan sekolah. Atas hal itu, Siami yang awalnya harus diselamatkan ke kantor polisi untuk menghindari amuk massa, berdalih hanya ingin mengajarkan kejujuran pada anaknya. Demi meredam emosi massa, Dinas Pendidikan dan DPRD bersepakat tidak mempermasalahkan keabsahan ujian karena kasus itu.

Meyontek massal dianggap tidak ada, yang digunakan tetap nilai seperti biasanya.
Tapi makin pelik, ketika tiga guru yang dianggap bertanggung jawab karena menyuruh Aam memberi contekan saat ujian, diancam dihukum penurunan pangkat satu level. Tapi Mendiknas M Nuh menegaskan tidak ada nyontek massal, dan kementeriannya tidak akan menggelar ujian ulang (S M, 16/06/11).

Semuanya Korban
Kasus Gadel bukanlah yang pertama. Setahun lalu, juga di musim UN, sebuah sekolah SLTA harus mengulang ujian karena lembar jawabannya sama semua.  Sama-sama terbukti melakukan contekan massal, bedanya dilakukan via SMS. 

Keduanya adalah fenomena gunung es dari runtuhnya sekolah sebagai institusi mulia karena UN. Kasus kecurangan lainnya ditengarai lebih banyak, hanya saja belum tercium media.  Dalam bahasa Hermawan Sulistyo, karena malaikat belum membuka aib buruknya.

Penyelesaian kecurangan UN yang melibatkan jumlah massal, sejauh ini selalu lemah. Karena itu, kecurangan yang satu menjadi inspirasi bagi kecurangan yang lain. Ada pemeo yang mengatakan “ if you kill somebody you must be a murder , but if you kill a thousand people it’s mean you are a conqueror.”  JIka anda membunuh satu orang berarti anda pembunuh, tapi jika yang anda bunuh ribuan orang anda adalah seorang penakluk.  Dalam konteks UN, jika anda sendiri yang mencontek anda terancam tidak lulus ujian, tapi jika yang mencontek satu sekolah, maka besar kemungkinan anda akan diselamatkan.

Hal-hal  seperti ini benar-benar membuat nurani kita benar-benar terusik.  Bagaimana mungkin orang yang berusaha untuk mempertahankan kejujuran justru teralienasi dan diposisikan sebagai orang yang salah. Bagaimana pula kerumunan massa bisa mengendalikan timbangan keadilan.  Dan, bagaimana kecurangan demi kecurangan selalu muncul disetiap musim UN.

Kecurangan guru adalah satu hal,  menghukumnya sah-sah saja. Tapi kecurangan guru tidak berdiri sendiri. Kecurangan guru, disebabkan oleh kecurangan besar lainnya, yaitu UN itu sendiri. Meski MA telah memutuskan UN harus ditinjau ulang hingga sampai  semua sarana dan infrastruktur diseluruh pelosok nusantara siap, atau dengan bahasa sederhana Indonesia saat ini belum siap menyelenggarakan UN, tapi pemerintah masih saja tetap menggelar UN.

Mahkamah Agung telah menolak kasasi pemerintah.  Perkara dengan nomor register 2596 K/PDT/2008 tertanggal 14 September 2009 itu telah memenangkan gugatan warga negara (citizen lawsuit) terhadap UN. Penolakan kasasi ini berarti menguatkan putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta pada 6 Desember 2007 yang juga menolak permohonan pemerintah.

Sayangnya, celah kelemahan tekstual dari putusan MA ini telah dimanfaatkan sedemikian rupa untuk tetap menggelar UN. Sehingga jelas, kecurangan di sekolah telah by design sejak dari pusatnya. Hukuman terhadap kecurangan sekolah atau guru akan terus ada silih berganti,  tidak akan pernah berakhir sampai pokok permasalahannya teratasi, yaitu pemerintah mentaati hukum dan amanat UUD pasal 31 dan amandemennya. Dalam bahasa guyonan santri, disinilah letak ummul munkarot-nya (akar masalah).
AL dan keluarganya, guru SDN II Gadel, dan wali murid yang marah, semuanya hanyalah korban dari pembangkangan pemerintah terhadap hukum dengan tetap menyelanggarakan UN.

Pahami Guru
 Fokus guru di  jenjang pendidikan dasar  adalah menyiapkan dan menemukan potensi diri anak didik sedini mungkin .  Potensi inilah yang akan menjadi modal utama untuk survive di kehidupannya kelak. Karena itu, penting bagi guru untuk menghantarkan setiap murid menuju jenjang berikutnya dengan meninggalkan kenangan manis berupa pengalaman belajar yang menyenangkan .

Disinilah tekanan pertama bagi guru. Sudah menjadi rahasia umum jika format UN/UASBN hanya mencakup akademis saja. Dalam kacamata taksonomi Bloom, sebagian besar ada pada wilayah recalling atau menghafal. Ini adalah hal yang sangat tidak bisa digunakan sebagai alat mengukur kecerdasan seseorang. Dan dengan realita tidak semua input murid di sekolah memiliki kecakapan akademis, maka guru pun wajib memikirkan murid-murid yang memiliki potensi nonakademis. Anak-anak ini biasanya mengalami kesulitan menghafal, tapi menonjol dalam bidang lain seperti olahraga, seni, dan keterampilan hidup lainnya.

Itu sebabnya, jika orang tua murid hanya berpikir yang penting anakku lulus, maka guru yang baik akan berpikir bagaimana caranya meluluskan semua murid, plus catatan dengan kebanggaan dan memori yang baik. Di titik ini, sangat manusiawi jika guru kemudian tergelincir dalam metode.  Sebab, dalam kacamata guru, masa depan murid jauh lebih penting untuk dipersiapkan ketimbang terjebak dalam kesuntukan UN/UASBN.

Tekanan ini kemudian semakin bertambah besar dengan tuntutan dari orang tua-masyarakat, dan juga dinas pendidikan setempat bahkan kepala daerah. Prestis, keberlangsungan sebuah sekolah, dan prestasi jabatan adalah motivasi besar  di sekitaran UN yang kemudian bermunculan, menjauh dari konteks memajukan pendidikan anak.  UN telah melayukan pendidikan karakter sebelum berkembang menjadi bunga.

Padahal sebenarnya, sebagus apapun hasil UN sama sekali tidak mencerminkan keberhasilan pendidikan di Indonesia. Yang ada malah sekolah menjadi lebih mirip bimbingan belajar. Sudah jamak di sekolah-sekolah pada semester terakhir  kehilangan suasana belajar yang kondusif. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk mensiasati soal-soal UN. Alhasil, anak-anak didera ketegangan dan stressing yang tinggi menjelang UN.  

Kasus Gadel sebenarnya representatif dari kondisi sekolah-sekolah di Indonesia.  Jika kita mau jujur, barangkali kita akan terbelalak menghitung jumlah sekolah yang diam-diam  melakukan kecurangan, karena teramat banyaknya. Tahun ini, angka kelulusan UN secara nasional hampir mendekati 100 %. Sukses besar tentu saja, tapi kesuksesan yang harus dibayar mahal karena menukarnya dengan kejujuran dan keadilan.

Karena itu, guru yang dihukum karena mengajari curang bisa dimaklumi. Guru yang ksatria mengakui kesalahan dan ikhlas menerima hukuman juga patut diacungi jempol, karena masih dalam koridor pendidikan, hal positif yang masih bisa dicontoh. Orang tua yang mengajarkan kejujuran pada anaknya, adalah sebuah kesemestian. Tapi, pengusiran warga kepada orang tua yang mendidik  anaknya kejujuran adalah sebuah anomali.

Barangkali warga Gadel tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan dua kekeliruan sekaligus. Pertama, penyerangan terhadap nilai kejujuran. Ketakutan berlebih yang dibungkus dengan tuduhan pencemaran nama baik itu terlalu berlebihan. Seharusnya, wali murid turut berada di gerbong Ny. Siami mengawal agar kejujuran ditegakkan di sekolah. Dan yang kedua, pelanggaran HAM karena mengusir seseorang dari rumah pribadi dan kampung halamannya sendiri tanpa dasar yang jelas.

Menurut Ketua IGI Pusat, Satria Dharma,jika kita terus menerus menutup mata kita terhadap kecurangan demi kecurangan maka pada hakikatnya kita sendiri adalah pelaku kecurangan itu sendiri. Dalam konteks ini, AL seharusnya mendapatkan perlindungan fisik dan psikologikal. Ia mesti bangga dengan kejujuran yang ditegakkan keluarganya. Ia layak mendapatkan Award untuk kejujuran. Karena nilai kejujuran inilah yang harus dimiliki bangsa jika ingin terbebas dari belenggu korupsi yang  telah mengurat daging. []

(note : versi edited dimuat di Suara Merdeka)

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Sunday, June 19, 2011 2 komentar

Antologi Puisi DTK telah diluncurkan...
dan alhmdulillah respon dari pembaca sejauh ini baik.
Beberapa diantaranya bahkan sempat menuliskanreview singkat,
seperti Bu guru Hindraswari dalam blognya (http://enggar.net/2010/11/18/dialog-tanpa-kata/) dan Bu guru Aeni dalam notes FBnya.

Berikut review Bu Hindraswari Enggar yang juga penulis buku TIK untuk SD Terbitan Erlangga  ini :

“Kata adalah … inspirasi
ia bisa melahirkan banyak energi
untuk menebar rahmah di muka bumi

Kata adalah … abadi
meski waktu bisa mengubur diri
tapi gaungnya tidak akan pernah mati”

Prosa di atas saya kutip dari buku Dunia Tanpa Kata, yang ditulis oleh kawan maya saya Doni Riadi dan muridnya Fina Af’idatussofa. Penggalan prosa di atas mengingatkan saya pada nukilan kalimat berikut ini. “Scripta manent verba volant. Yang tertulis akan tetap tinggal, yang diucapkan lenyap bersama angin.”
Itulah kekuatan sebuah tulisan. Tulisan juga bisa mengubah dunia. Tulisan yang baik, dan mencerahkan pembacanya bisa menjadi rahmat bagi semesta pun sebaliknya.

Rangkaian kata berbentuk puisi atau prosa selalu menyenangkan untuk disimak. Ada pesan-pesan tersembunyi dalam setiap untaian kata. Pun ungkapan hati penulisnya. Kadang kata-kata itu begitu melekat dan menyatu dengan kehidupan kita sendiri.

Kumpulan prosa dan puisi ini banyak bercerita sebuah rasa. Cinta. Cinta kepada Sang Khalik. Cinta kepada sahabat, sesama dan alam semesta.

Puisi semacam pesona. Setiap rangkaian kata indahnya mencerminkan jiwa kita sendiri.

“bukan pada maya atau nyata
sebab maya bisa begitu nyata
dan nyata bisa menghilang maya
yang utama adalah
kita bisa menjadi sahabat
sejatinya
selamanya
pada maya
pada nyata” (Maya dan Nyata)

Teruntuk kawan maya saya, Pak Doni, selamat atas terbitnya buku Antologi Puisi ini. Semoga seperti harapan Anda, buku ini dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Dan sukses untuk buku-buku berikutnya.

---

Review dari Bu Aeni yang seorang guru di Sekolah Alam Ar-Ridho dan mengampu Ekskul Menulis:
"Membaca dialog tanpa kata membuat bibirku terbungkam,karena ketakjuban dari setiap ungkapan yg menyejukkan.Setiap hurufnya mengalir memberikan banyak makna,hingga tak perlu kata untuk membuat makna.Cinta dan kerinduan terangkum dalam kagum,hingga membuatku terkagum-kagum.,."

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Friday, November 19, 2010 4 komentar


Buku ini ditulis teruntuk  Sahabat Sejati…, yang bisa mendengar kata-kata yang tak mampu terucap.

Dialog Tanpa KATA pada dasarnya merupakan kumpulan dialog imajiner. Puisi atau prosa di lembar halamannya tidaklah berdiri sendiri namun merupakan sebuah kesatuan rangkaian cerita. Ini adalah “novel” dalam bentuk syair-syair.
Dialog Tanpa KATA pada dasarnya dimaksudkan untuk menjadi teman dalam masa pertumbuhan & pergolakan remaja dan siapa saja yang terus berusaha menemukan jati diri khususnya dalam diskursus pencarian ilmu, cinta dan persahabatan, alam semesta, dan kuasa Allah pada mahkluknya.
Dialog Tanpa KATA adalah karya kolaborasi murid dan guru yang sama-sama menyukai embun pagi. Perspektif dari perpaduan dua dimensi umur, membuat tiga masa : lalu, kini,dan masa depan, menjadi sebuah lingkaran terhubungkan.

"Lewat kata, aku berucap dalam kebisuan,
lewat do’a kusampaikan pesan tanpa hinggap di pendengaranya,
lewat mata hati aku bisa melihatnya.
Jika tak ada kata,,,
Mungkin aku tak kan mengenalnya sama sekali."

          [fina, dalam LEWAT KATA hlm. 35 DTK]

___

DATA BUKU :
Ukuran : A5
Tebal : 125 hlm
kertas : hvs putih
cover : softcover glossy
Price : Rp. 40.000
           (plus ongkos kirim 10rb utk dalam pulau Jawa dan Rp. 15.000 untuk luar Jawa.)
waktu pemesanan paling lambat untuk cetakan kali ini : 30 September 2010

UNTUK PEMESANAN :
silahkan kirim sms ke 0813 9099 1444 berisi nama dan alamat.
setiap pngirim SMS akan diberi no. rek. untuk transfer dana pembelian.
atau bisa juga melalui tag di catatan ini , dinding atau pesan di FB ini.
Ada diskon untuk pembelian jumlah tertentu.

Data Pemesan hingga hari ini (21/09/2010) :
1. Saiful Alaina , UTY, 1 eksp.
2. Bahruddin, Qaryah Thayyibah, 50 eksp.
(update pkl 21.00)
3. Hindraswari enggar, Jakarta, 1 eksp
4. Edo Segara, Jogjakarta, 1 eksp
(update 22/09/2010)
5. Achmadi, Sidoarjp, 1 eks
6. Hartatik, Spalza Semarang, 1 eksp
7. Aeni , Ar-Ridho Semarang, 1 eksp
8. Arnida, Semarang, 1 eksp
9. Imam Sardjono, Semarang, 1 eksp




Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Wednesday, September 22, 2010 0 komentar

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Wednesday, May 05, 2010 0 komentar


Penenang hatiku : si Bindung dan adiknya, ... si Dandung

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Saturday, January 16, 2010 0 komentar


Pada status di FB sebelumnya, aku sempat melontarkan pertanyaan, ada apa dengan warna hijau pada daun...mengapa kloroplast memilih warna hijau? mengapa hanya tanaman yang mampu menghasilkan oksigen (udara bersih) ?

***

Pada titik-titik tertentu, banyak pertanyaan yang kemudian berhadapan dengan sesuatu yang bernama: ketetapan Allah. Manusia tentu saja tidak mampu dan tidak berada pada domain "Pencipta", sehingga ada banyak hal yang kemudian hanya bisa dijelaskan oleh manusia dalam batasan "dicipta" yaitu mereka-reka: how to (cara kerja ilmiah sebuah ketetapan) dan why (mengapa diciptakan, terutama dalam konteks hikmah dan kemanfaatan).

Dalam kata lain, Sains (ilmu pengetahuan), bisa mengenalkan kita kepada Dzat MAha Pencipta, dan berlaku pula sebaliknya, mengimani Maha Pencipta akan membawa kita pada pengembangan sains.

Pertanyaan tentang hijau daun itu, telah menggiringku kepada sebuah perenungan, sebuah tafakkur alam. Dan kemudian kutemukan jawabannya (versi diriku sendiri, yang dhoif). Jawaban itu ketemukan tidak dalam kondisi menyengaja berdiam diri, menyepi atau menyendiri, melainkan dalam kondisi ramai ditengah riuh rendah suara celoteh murid-muridku dikelas 3 SD.

Ya, sebuah foto pada almanak (kalender) di dinding kelas kelas 3C telah mencuri perhatianku. Bahkan ketika aku bercerita tentang Candi Prambanan kepada mereka, sesungguhnya pikiranku sedang bekerja memproses citra yang masuk sekelebatan, dan pada detik yang kesekian akhirnya menghasilkan ouput alternatif jawaban.

Itu adalah foto yang memuat sebuah pohon besar hijau berlatar langit biru berarak awan putih dan dibawahnya dikitari padi menguning dan jalanan tanah coklat basah. Beberapa petani dengan beragam warna baju mengayuh sepeda onthel diatas jalan tanah itu. Itu adalah foto yang diambil ketika 'golden hours'... ketika intensitas matahari masih bersinar lembut. Itu, ketika pagi mulai menjelang, di sebuah desa antah berantah...


***

Harmonisasi alam
Hijau daun adalah bukti tak terbantahkan dari sebuah kesempurnaan penciptaan. Bahwa pada dasarnya, alam senantiasa HARMONI.

Hijau adalah alternatif warna terbaik bagi tanaman. Sebab Biru, beserta gradasi warnanya telah menjadi warna langit dan lautan. Langit adalah sebuah cermin bagi lautan, dan lautan adalah cermin bagi langit. Di angkasa luar, dimana tiada udara, langit sesungguhnya berwarna hitam gulita, udaralah yang menjadikan warna langit terlihat biru. Langit biru hanya ada di bumi, langit biru tidak ada di bulan, sebab di bulan hampa udara. Kehampaannya itu membuat gulita langit, bahkan sunyi senyap, karena tidak ada suara yang bisa terdengar di lingkungan hampa udara. Suara merdu anak mengaji hanya bisa terdengar di bumi.

Warna coklat, berikut gradasinya telah menjadi warna tanah dan daratan. Coklat muda, coklat tua, abu-abu dan hitam bahkan merah bata, adalah warna tanah. Masing-masing warna tanah mewakili karakteristiknya sendiri-sendiri, dan dari sana, manusia memahami mana tanah yang subur bagi mereka untuk bercocok tanam.

Bagaimana dengan warna cerah? Warna cerah adalah warna milik bunga. Warna cerah bunga akan semakin berkarakter dalam sokongan warna hijau daun-daun...Mawar merah, melatih putih, anggrek ungu , orange tulip, dan ribuan bunga lainnya menjadi nampak indah dalam 'background' hijau tanaman dan perdu. Bahkan tetes embun yang bening tanpa warna pun menjadi bercahaya bertakhta ujung hijau daun.

Hijau pada tumbuhan adalah warna mediasi diantara dua kutub langit dan bumi (tanah). Hijau pada daun masih nampak hijau jika harus dipaksa berlatar langit biru, dan juga jika dilihat dari langit, masih bisa nampak hijau jika dipadankan dengan coklat tanah. Bahkan lebih jauh lagi, gradasi warna hijau memiliki makna sendiri. Hijau muda untuk daun muda atau bakal daun, hijau pekat untuk daun produktif. Daun tua diwakili oleh hijau kekuningan, hingga kecoklatan dan sama sekali menjadi sewarna tanah jika ia telah jatuh ketanah. Tanaman empat musim yang berwarna-warni (daun maple misalnya) pun pada akhirnya akan berwarna tanah ketika ia kemudian telah jatuh berguguran menyatu dengan tanah. Pohon menghormati tanah tempatnya berpijak dengan menyerahkan daun-daun yang telah gugur kepada tanah, untuk menjadi tanah...


Satu-satunya Produsen Oksigen.
Hijau mewakili simbol kehidupan. Memberi efek kesegaran. Jutaan tahun sebelum manusia pertama diturunkan ke bumi, dan sebelum hewan pertama lahir ke bumi, tumbuhan telah lebih dulu bercokol di bumi. Tumbuhan menjadi indikator sebuah lingkungan layak huni. Begitu bumi telah ijo royo-royo, dan langit telah terlihat biru, itu berarti barulah bumi siap menampung makhluk bernama manusia. Sebagaimana namanya, tumbuhan...tumbuh...adalah icon sebuah cikal bakal nafas kehidupan.

Hanya daun yang bisa memproses racun di udara (karbondioksida), sebagai hasil kerja manusia (yang hanya bisa menyampah dan meracuni udara), setelah bereaksi dengan air, menghasilkan karbohidrat dan udara (oksigen) bersih. Kandungan karbohidrat ini, yang kemudian dilahap oleh dua makhluk lainnya, manusia dan hewan sebagai makanan, berikut udara, sebagai fasilitas gratis cuma-cuma dari tanaman. 3 menit saja menutup hidung dari akses udara, manusia sudah berada dititik nadir antara hidup dan mati. Dalam konteks 'kelemahan' ini, mengapa manusia kemudian merasa dirinya sebagai mahkluk paling kuasa atas makhluk lainnya?

Artinya jelas, tumbuhan ditetapkan sebagai satu-satunya penghasil oksigen, adalah sebagai alat kontrol terhadap nafsu keserakahan manusia. Keserakahanlah yang pada dasarnya membawa manusia menuju binasa.

Saya tak bisa membayangkan jika di masa mendatang, saat populasi manusia terus berkembang, lalu tanah-tanah yang tersisa digunakan sebagai pemukiman, industri, jalan, dan lain sebagainya yang intinya menjadikan tumbuhan sebagai makhluk langka. Atau saat pohon terakhir ditebang, dan sungai terakhir kering, maka mungkin manusia akan saling berperang untuk sekedar mendapatkan sehirup dua hirup udara yang sudah dikemas sedemikian rupa dalam kemasan.

Harus ada negara di jalur khatulistiwa, tempat hutan hujan tropis berada (Indonesia contohnya), sebagai pusat kekayaan keragaman hayati dan hewani dunia berada, yang mengalah bertahan menjadi negara bukan industrialis dan tetap pada karateristiknya sebagai negara agraris. HUtan itu mestinya tetap menjadi hutan, sebab begitu godaan industrialis itu dipenuhi maka, hutan-hutan itu akan menjadi musnah, terganti oleh cerobong-cerobong asap pabrik dan emisi karbon pun meningkat pesat tanpa ada kekuatan penetral alaminya, yaitu tumbuhan. Pada saat ini terjdi, mungkin kiamat kecil telah tiba.

Maka, sungguh mulia, mereka yang menanam, atau yang mempertahankan sebuah tanaman hijau agar tetap hidup, karena artinya mereka telah membangun pabrik oksigen di muka bumi. Dalam konteks ini, jujur saya kemudian berkaca-kaca ketika manusia modern atas nama ekspansi tempat tinggal, kemudian menghancurkan pohon terbesar dan tertua di film Avatar, terlebih penghancurannya dengan rudal dan bom, sebagai keterwakilan majunya sains dan teknologi. Bumi tidaklah butuh bom, tapi butuh sebanyak-banyaknya tanaman hijau... Padahal itu dalam film, kenyataan kerusakan yang ada dibumi berkali-kali lipat adanya. sehingga tidak terkatakan kesedihan yang seharusnya hinggap di hati setiap manusia setiap kali mengingat kerusakan ini.

***

Begitu banyak rahasia di muka bumi,
semakin terkuak semakin menguatkan kecintaan Allah kepada manusia,
sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim-Nya menjadi makin tak terbantahkan
"Maka nikmat Kami manalagi yang engkau dustakan?"

(ditulis sebagai : guru sekolah alam ar-ridho)

Diposkan oleh doniriadi.blogspot.com Thursday, January 14, 2010 4 komentar

Subscribe here

Better Place For Children